"Guru terbaik adalah kesalahan terakhir yang Anda lakukan." Ralph Nader Kandidat Presiden AS pada 1992, 1996, 2000, 2004, dan 2008

15 Juli, 2008

Sepak Bola dan Industri I

Indonesia Super League telah dimulai minggu ini, tepatnya pada tanggal 12 Juli 2008. Beberapa kesebelasan telah tampil dengan berbagai asesoris baru, mulai dari pemain, jersey, logo, ataupun lapangan bola yang telah disulapnya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan BLI. Diluar pertandingan, ada beberapa catatan yang harusnya menjadi perhatian klub-klub anggota Liga Super Indonesia, salah satunya adalah dana klub yang sampai saat ini masih belum menjadi prioritas profesionalisme sepakbola Indonesia, kenapa ? karena hampir 90 persen klub yang berlaga masih mengandalkan pendanaannya dari kantong pemerintah.

Bisa dicatat, hanya Arema Malang, Pelita Jaya dan PKT Bontang yang pendanaannya sudah mandiri berkat asas profesionalisme yang telah dianutnya dengan baik. Padahal, sebagai olahraga utama di negeri ini, sepakbola bisa dijual !.

Klub - klub besar seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, PSMS Medan, Sriwijaya FC, PSIS Semarang, Persik Kediri, Persipura Jayapura atau beberapa klub lainnya sampai saat ini kesulitan dalam soal dana. Sungguh ironis, sangat disayangkan klub-klub tersebut sampai saat ini hanya mengandalkan dana APBD untuk menjalankan keikutsertaannya dalam Indonesia Super League.

Padahal, banyak lahan yang sebenarnya bisa menghasilkan uang untuk membiayai klub seperti penjualan merchandise klub, tiket, hingga mendapatkan sponsor. Yang jadi masalah, adalah kenapa mereka tidak berhasil dalam hal itu ? karena mereka ( pengelola klub ) tidak punya jiwa bisnis, entrepreneurship mereka nol, maunya disuapin terus kaya bayi !.

bersambung lagi nanti

0 komentar: