Kerusuhan dan kerusuhan, adalah potret buram sepakbola Indonesia baik untuk tingkat Liga Super maupun untuk kelas Divisi Utama, bahkan untuk untuk level dibawahnyapun tidak terlepas dari kerusuhan seperti yang sering kita baca di media-media, bahkan sepakbola antar RT-pun bisa memicu kerusuhan.
Ada apa sebenarnya dengan masyarakat Indonesia ini ? mereka gampang sekali tersulut emosinya dan melampiaskannya dengan berbagai tindakan anarkis seperti yang sering terjadi di sepakbola. Memang hanya segelintir oknum yang berbuat ulah, tapi efeknya menyentuh berbagai kalangan, sampai pihak keamanan pun tak segan mengeluarkan larangan pertandingan bagi klub sepakbola yang pendukungnya sering berbuat keonaran seperti Persib Bandung dan Persija Jakarta.
Namun, dengan dilarangnya pertandingan berlangsung diwilayah yang dianggap rawan kerusuhan apakah bisa menyelesaikan masalah ? susah untuk menjawabnya, bahkan dengan adanya larangan tersebut membuat pro kontra semakin meluas, ada yang menganggap bahwa pihak keamanan yang mengeluarkan larangan tersebut bersikap pengecut karena tidak berani menghadapi kerusuhan tersebut, bagaimana mereka mengawal negara kalau hanya menghadapi para oknum pembuat keonaran di sepakbola tersebut saja mereka takut ??
Namun yang pro lain pendapatnya, mereka setuju adanya larangan tersebut demi menyelamatkan aset dan juga sebagai pembelajaran agar para suporter bisa mengendalikan dirinya untuk menerima apapun hasil pertandingan. Tapi dibalik semua itu, adalah perlunya tindakan nyata dari berbagai kalangan khususnya pihak pantia penyelenggara pertandingan untuk bersikap tegas dan jujur terhadap para suporter, sikap tegas adalah dalam menegakkan aturan serta jujur dalam penjualan tiket, walaupun itu mungkin hanya sedikit membantu untuk mengeliminasi kerusuhan.
Sementara dari pihak Badan Liga Indonesia, mereka harus mau belajar dan tentu juga bersikap tegas, jujur serta adil dalam menentukan berbagai macam perangkat pertandingan, termasuk dalam penentuan pengadil di lapangan, tunjuklah mereka yang memang benar-benar mampu dan layak dalam memimpin, jangan memaksakan pengadil yang reputasinya sudah jatuh, atau kondisi fisik dan metalnya sedang tidak bagus, karena hal itu akan menjadi tidak maksimal dalam memimpin laga tersebut, dan bisa mengakibatkan emosi ikut terlibat, sehingga dalam membuat keputusan tidak berdasarkan fakta di lapangan tapi berdasarkan emosi semata, dan hal tersebut bisa berakibat fatal dan memicu kerusuhan masal.
Nah, kalau itu terjadi siapa sebenarnya yang harus menanggung apabila terjadi kerusuhan ? pihak panpelkah ? keamanankah ? suporterkah ? atau BLI ?. Tapi selama ini, yang menjadi tertuduh dan terdakwa dalam setiap kerusuhan selalu suporter, mereka yang selalu menjadi kambing hitam dalam setiap kerusuhan. Selama ini tidak pernah pihak keamanan atau BLI yang dituduh menjadi biang kerusuhan, padahal mungkin saja mereka juga menjadi penyebab dari kerusuhan tersebut. BLI misalnya, mereka sering menugaskan perangkat pertandingan (wasit dan asisten wasit) yang sedang tidak siap untuk memimpin, yang akhirnya sering berbuat blunder di lapangan yang menjadi penyebab kerusuhan. Tapi apakah mereka mau disalahkan ? tentu jawabannya tidak dengan berbagai alasan, kemudian pihak keamanan, padahal itu adalah tanggung jawab mereka untuk mengamankan kalau terjadi kerusuhan, mereka sudah dibayar untuk itu. Dan kalau memang masih terjadi kerusuhan, berarti pihak keamanan tidak mampu dan ketidakmampuan tersebut tentu harus dibayar dengan pertanggungjawaban. Nah.........silahkan ber-komentar........


1 komentar:
Who knows where to download XRumer 5.0 Palladium?
Help, please. All recommend this program to effectively advertise on the Internet, this is the best program!
Posting Komentar